Pertama Menulis

Awal saya menulis sekitar kelas sepuluh atau sebelas. Cukup telat untuk memulai, bukan? Karya pertama saya adalah puisi bertema kemerdekaan, tugas rumah dari guru Sastra Indonesia. Meski tidak pernah dinilai karena beliau lupa di hari pengumpulannya. Jika diingatkan pun, saya akan jadi musuh sebagian besar teman sekelas yang lupa mengerjakannya.

Setelahnya saya menulis sekitar dua puluhan puisi. Ada puisi cinta, rindu, kasmaran, bahkan perselingkuhan. Entah saya dapat dari mana ide-ide itu, padahal saya belum pernah pacaran, apalagi selingkuh. Jatuh cinta, iya. Merasakan cinta pertama, iya. Dan saya rangkum perasaan-perasaan tersebut dalam bentuk puisi, yang bisa saya tertawakan sekarang sambil mengenang masa-masa itu.

Kalau diingat lebih jauh lagi, saya pernah membacakan sebuah puisi di acara kelulusan sekolah. Saat itu saya baru kelas satu, akan naik ke kelas dua. Ibu guru memilih beberapa murid untuk naik ke pentas untuk menampilkan kesenian sebelum acara utama, wisuda murid-murid kelas enam. Saya terpilih menjadi salah satunya. Kalau tidak salah ingat, ada satu murid lain yang menampilkan kesenian yang sama. Membacakan puisi.

Puisi yang saya bacakan saat itu ditulis oleh Ayah saya. Saya lupa judulnya, apalagi isinya. Yang saya ingat waktu itu, puisi tersebut menceritakan tentang kelinci yang lucu, tetapi juga bikin haru. Larik satu-satunya yang saya ingat adalah larik terakhir (kalau pun ini tidak salah ingat). Kira-kira bunyinya seperti ini: Aduh, kasihan.

Dan saya memang patut dikasihani waktu itu. Saya tidak mendapatkan apresiasi berupa tepuk tangan, mereka malah bilang tidak mendengar suara saya, apalagi puisi yang saya baca. Setelah cukup besar, saya menyadari penyebabnya. Suara saya kecil, meski untuk ukuran laki-laki. Bahkan suara saya mirip perempuan ketika sedang dalam saluran telepon. Aduh, kasihan.

Menulis tidak lepas dari membaca. Saya sangat suka sekali membaca sedari kecil. Pekerjan Ayah dan Ibu saya membutuhkan koran atau kertas-kertas bekas sebagai pembungkus. Itulah sumber pertama bacaan saya. Saya mendapatkan majalah Bobo, Mentari, dan majalah anak-anak lain dari sana. Bahkan novel stensilan sampai yang beneran. Saya sekarang bahkan masih menyimpan novel Hamka – Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck cetakan ke-21 oleh Bulan Bintang yang saya dapat saat itu.

Sekarang pun sumber bacaan pertama itu masih ada, meski apa yang saya dapat sudah berkurang drastis. Majalah kadang bisa saya dapat satu bulan sekali, dan novel lebih lama lagi. Kebanyakan adalah LKS, buku pelajaran, dan koran bekas. Saya sudah muak dengan soal-soal sekolah seperti itu, meringkas pelajaran dalam satu-dua lembar, dan memberi berpuluh-puluh lembar soal. Lebih besar pasak daripada tiang. Dan koran hanya edisi minggu yang saya ambil, karena ada satu cerpen dan beberapa puisi di halaman khususnya.

Sumber kedua bacaan saya adalah dari ponsel. Ketika itu saya sudah cukup besar, kira-kira sudah kelas tujuh. Saya mendapatkan ponsel Nokia lipat yang sekarang masih ada, meski sudah terbelah jadi dua. Batang layar dan keypad-nya terpisah setelah tanpa sengaja saya injak.

Dengan ponsel berinternet tersebut saya mencari bahan bacaan dan terdampar di sriti.com (sekarang sudah tidak mengudara lagi) tempat cerpen-cerpen koran berada. Saya hampir membaca keseluruhan cerpen di sana, mungkin karena itu gaya kepenulisan saya lebih condong ke arah cerpen-cerpen koran.

Beberapa tahun setelahnya saya terdampar lagi di website berisi karya fiksi, kemudian.com. Saya tidak ingat betul kapan itu, karena baru beberapa waktu kemudian saya berani mendaftar di sana dan menulis cerpen kedua saya. Cerpen pertama saya saya tulis di buku pelajaran, dan sekarang hilang entah ke mana.

Sejak saat itu saya mulai berani menulis dan memperlihatkannya pada orang lain. Dan dari sanalah awal cita-cita saya ingin menjadi penulis tercipta. Cita-cita yang masih saya perjuangkan sampai sekarang, meski sudah berubah tujuannya. Dari awalnya yang hanya untuk senang-senang, lalu ingin jadi terkenal, menerbitkan buku, sampai pada sesuatu yang tidak bisa ditulis dalam kata-kata.

Sekarang, alasan saya masih terus menulis karena itu satu-satu hal yang dapat saya lakukan. Maka saya akan terus menulis, sebagaimana saya masih terus bernapas dan bermalas-malasan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s