Bersyukur pada Kemalangan

Ketika saya sedang berjalan santai dengan irama senang, tiba-tiba tembok besar jatuh dari langit di depan saya, membuat laju kaki saya terhenti, dan irama senang itu hilang. Tembok itu adalah kemalangan, sebangsa ujian, masalah, dan sejenisnya. Saat-saat seperti itu, mungkin saya akan bermain Play Station beberapa waktu sampai tembok tersebut runtuh dengan sendirinya (apa coba ini?).

Hidup memang tidak jauh-jauh dari kemalangan. Bisa diperkirakan kamu akan menemui lima kemalangan sebelum menemukan satu kemujuran. Begitu juga dalam cerita besar dan panjang semacam novel. Tokohnya pasti menemui kemalangan yang harus mereka hadapi dan lewati, meski hanya sekedar berbentuk kesalahpahaman dalam hubungan percintaan, atau runtuhnya sebuah negara karena satu kesalahan kecil.

Salah satu novel dengan karakter tak biasa saya temukan pada Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Dalam novel tersebut ada tokoh Dewi Ayu yang begitu tenang menghadapi kemalangan, bahkan kesan yang saya dapat ia seperti tak punya perasaan sama sekali. Seperti robot atau OS yang mengeksekusi perintah sesuai logika yang ditanam pembuatnya, tanpa harus memikirkan lebih lama apakah perintah itu sudah benar atau tidak menurut suara mayoritas.

Saya mengambil contoh saat Dewi Ayu ditahan di penjara Bloedenkamp. Ibu dari
Ola—salah satu teman dekatnya di sana—menderita demam hebat. Ola terpaksa pergi menemui Komandan Kamp untuk meminta obat, tetapi dirinya harus tidur dulu dengan komandan tersebut jika menginginkan benda tersebut. Ola kembali sambil menangis dan berkata putus asa untuk membiarkan ibunya mati saja. Namun, Dewi Ayu menemui Komandan Kamp tersebut sebagai pengganti Ola, merelakan tubuhnya untuk mendapatkan obat dan dokter.

Contoh lain saat Dewi Ayu dan beberapa gadis muda yang berada di Bloedenkamp di angkut oleh tentara Jepang ke sebuah tempat. Di sana mereka dipaksa melacurkan diri. Ketika hari di mana tamu-tamu datang, teman-teman Dewi Ayu meronta dalam kesia-sian untuk mepertahankan diri. Sementara Dewi Ayu bersikap tenang, serupa mayat yang akan segera dikubur.

Sikap tenang Dewi Ayu tersebut bukan berarti bentuk dari kepasrahan, kerelaan, dan sebagainya. Ia hanya bersikap efisien, tidak mau melakukan hal yang sia-sia seperti meratapi kemalangan, juga tidak mau membuang waktu terlalu banyak untuk melewati kemalangan tersebut. Seperti saat ibu Ola yang sakit dan butuh dokter, ia tahu hanya Komandan Kamp yang bisa memberikan obat dan dokter, dan itu tidak gratis. Ia tidak lantas seperti Ola yang hanya bisa menangis dan membiarkan ibunya mati. Dewi Ayu membayar harga obat dan dokter tersebut dengan tubuhnya, karena hanya itu satu-satunya cara untuk menolong ibu temannya tersebut.

Juga saat ia dipaksa melacurkan diri. Ia tahu dirinya tidak bisa lari dari tempat itu, hanya ada dua jalan untuknya di sana, bunuh diri (dengan arti lain melarikan diri dari kemalangan dengan cara pengecut) atau jadi pelacur suka atau tidak suka. Ia memilih jalan kedua, tetapi tetap tidak mau kalah dari kemalangan. Ia diam seperti patung sebagai bentuk protes, bukan dengan menolak dalam kesia-sian seperti teman-temannya yang meronta-ronta, bahkan penolakan semacan itu membuat tamu-tamunya tambah senang.

Saya jadi berpikir untuk menghadapi kemalangan—tembok besar yang menghalangi laju kaki saya—setenang Dewi Ayu. Contohnya, ketika sepeda motor saya dicuri oleh maling, saya tidak akan menangis (cowok kok nangis?), kesal, mengeluh, dan marah-marah pada si pencuri, atau melakukan hal sia-sia lain, seperti update status di Facebook atau Twitter, yang semuanya tidak akan membuat maling itu kembali membawa sepeda motor saya. Saya akan bersikap tenang dan berpikir positif. Mungkin itu sebuah teguran halus karena saya jarang berolahraga, dengan hilangnya sepeda motor tersebut, ada kesempatan bagi saya untuk melakukannya dalam perjalanan ke tempat kerja. Tetapi, saya tidak serta merta merelawakan begitu saja. Seperti Dewi Ayu yang memprotes dirinya dijadikan pelacur dengan cara diam, saya akan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan itu. Baik pencurinya tertangkap atau tidak, sepeda motor saya kembali atau tidak, itu perkara lain, yang penting saya sudah berusaha untuk mendapatkannya kembali, dan saya tidak akan jatuh dalam perilaku kesia-sian saat kemalangan itu datang. Malah mungkin, saya tersenyum senang.

Jika diingat lagi, tanpa sadar saya telah mempraktekkan tata cara hidup tenang ini meski dalam sekala kecil. Matinya listrik ketika MotoGP tadi malam berlangsung. Kalau saya belum pernah bertemu Dewi Ayu, saya pasti akan kesal dan marah-marah, memaki PLN, dan tidak akan hilang sampai pagi. Tetapi tadi malam, saya bersikap tenang. Tidak menonton satu pertandingan bukanlah masalah, sehingga saya bisa tidur lelap di gelapnya kamar, sebagai mana malam-malam yang lain.

Kemalangan memang tidak bisa ditolak, sebagaimana kematian yang pasti akan datang. Perbedaannya, kematian hanya datang satu kali, sementara kemalangan akan menghadangmu berkali-kali sebelum kamu mati. Maka, cobalah sekali-kali menghadapinya dengan tenang, seperti berjumpa teman lama. Mungkin dengan begitu kehidupanmu akan setenang sikapmu, dan mungkin pula dapat menghibur orang lain yang tanpa sengaja melihatmu tertawa ketika sepeda motormu hilang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s