Kelabilan Saya dan Permintaan Pacar

Awalnya saya tidak terlalu paham kenapa kebanyakan cerpen luar negeri itu panjang-panjang, dan kenapa cerpen di media koran (di negara ini) pendek-pendek. Sekarang, setelah menulis beberapa tahun (kapan?), saya agaknya paham. Pemalas memang selalu telat dalam memahami, bukan?

Tidak, bukan demikian, saya memiliki pemikiran bodoh ini setelah ikut sebuah grup berinisial DK. Grup yang diprakarsai para begundal kemudian.com yang kiranya berusaha mencari Kitab Susi di barat, tapi terperangkap jerat-jerat kenikmatan menciptakan kitab sendiri. Lalu mereka merangkul penulis-penulis lain yang kiranya punya pemikiran yang sama.

Dalam grup tersebut, dalam satu bulan ada dua tantangan menulis cerpen. Bentuk tantangannya berbeda pada setiap putarannya, bisa mengarah ke tema, latar, genre, bahkan campuran dari berbagai unsur yang mengikuti cerita fiksi. Cerpen yang dihasilkan nanti, setelah melewati saringan komentar dari para anggota dan revisi, diharapkan bisa dikirim ke media.

Akhir bulan ini, temanya adalah cerpen majalah Femina, yang cukup sulit bagi saya karena tidak terlalu familier. Setelah hampir dua minggu mengawang di dunia antah-berantah, akhirnya saya bisa menulis dua hari sebelum deadline yang sudah ditetapkan, namun apa yang saya dapat tidak sesuai harapan.

Cerita yang saya tulis tersebut berkembang menjadi draf yang lebih dari 5.000 kata, bahkan itu belum sepenuhnya selesai, masih ada dua adegan lagi yang belum ditulis. Perkiraan saat cerita ini selesai, menghabiskan 7.000 kata. Masih bisa disebut cerpen jika menganut batas maksimal cerpen di 10.000 kata.

Hal yang sama pernah terjadi pada tantangan-tantangan sebelumnya. Saya menulis cerpen tersebut dengan hasil akhir lebih dari 2.000 kata, ketika media mensyaratkan cerpen yang mereka terima batas maksimalnya sampai 10.000 karakter, bahkan di bawah itu. Kisaran menurut data yang saya peroleh, antara 1.000 sampai 1.500 kata (7.000-10.000 karakter).

Kali ini, untuk memenuhi tantangan cerpen Femina tersebut, saya menulis lagi cerpen baru. Saya memangkas beberapa bagian yang kiranya dapat membengkak sampai 2.000 kata jika diteruskan. Hasil akhirnya sekitar 1.700 kata (masih kelebihan kata). Selain kehilangan beberapa bagian cerita, saya masih harus memangkas beberapa kata lagi agar sesuai permintaan media. Apakah saya harus menderita anoreksia dulu sebelum diterima sebagai salah satu kontributor penulis rubik cerpen?

Saya bukan orang yang membenci cerita super pendek (kisaran ribuan kata), bukan pula pecinta cerita super panjang (yang masih bisa dianggap cerpen). Saya hanya benci jika apa yang saya tulis harus dipangkas sedemikian rupa (dengan mengorbankan berbagai hal) agar langsing sesuai permintaan pasar, atau media dengan keterbatasan halamannya. Sayangnya, menurut apa yang saya ketahui, cuma lewat jalur medialah cerpen-cerpen dari penulis baru bisa diterbitkan.

Saya bisa saja menerbitkannya dalam bentuk kumpulan cerpen, tapi, penerbit mana yang mau mencetak buku dari penulis yang bahkan namanya belum sekalipun nampang di koran. Cuma keluarganya saja nanti yang beli, itupun kalau sudi.

Di sisi lain, cerpen yang saya hasilnya lewat pemangkasan beberapa bagian tersebut, kurang memuaskan. Itu seperti menghidangkan setengah porsi dari makanan. Mana bisa membuat tamu kenyang. Atau mengatakan sesuatu setengah-setengah, yang sudah pasti tidak akan bisa dimengerti oleh orang lain.

Saya jadi seperti SKE48 yang bertanya-tanya soal cinta di Kin no Ai, Gin no Ai. Bedanya, saya bertanya-tanya soal cerpen: Cerpen emas ‘kah? Cerpen perak ‘kah? Mana cerpen yang telah hilang darimu? Tapi cerpen tidak seindah itu, hanya kepuasan diri yang dipercaya …. Tidak ada cerpen di dalamnya, ya, hanya kepalsuan belaka. Meskipun aku memberi, aku tidak akan mendapatkan apapun …. Bagaimana bentuk cerpen itu? Sekarang, aku menoleh pada kesedihan yang membisu …. Tetap saja, cerpen yang bersinar adalah kebenaran emas.


Sedikit memaksa memang, tapi, batasan kata cerpen di media menurut saya juga memaksa.

Iklan

Satu pemikiran pada “Kelabilan Saya dan Permintaan Pacar

  1. Hi…..just wondering if it is alright for female pigg to mate with her son pi&;8#230;g#8230&awwww i think shes preggy…. she huge, with thing pointing straight and kinda up….. but tittys look full and when lying down (shes been lying alot) today, looks like movements are happening

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s