Semut Belang-belang

Ini bukan kisah pasien no 23 yang pernah didengar oleh Dokter S dan diceritakan kembali oleh Ryunosuke Akutagawa. Bukan pula kisah Zarah yang keliling dunia untuk mencari ayahnya, sebagai mana kesaksian Dewi Lestari. Pun bukan kisah Zainuddin yang merantau ke Jawa setelah ditinggal nikah oleh Hayati, cinta pertama dan terakhirnya, seperti yang pernah saya dengar dari Hamka.

Ini hanya kisah semut belang-belang yang tinggal satu bulan di pemukiman semut merah. Ia diperlakukan cukup istimewa, diberi tempat tinggal yang cukup layak, makan tiga kali sehari, kadang bisa empat kali. Namun, ia diberi tugas untuk mengajar anak-anak semut merah di sebuah sekolah. Semut belang-belang dianggap punya ilmu berguna untuk mereka.

Semut belang-belang memang pernah bersekolah, bahkan lulus dengan nilai tertinggi di angkatannya. Tetapi ia tidak pandai berbicara di hadapan banyak orang. Ia tipe pemalu dalam bicara, hanya bisa lancar jika menerjemahkan isi pikiran dan perasaannya lewat kata-kata. Ia lebih suka menulis daripada berbicara.

Semut belang-belang yang dilimpahi tanggung jawab mendidik anak-anak semut merah, menjalaninya dengan semampu yang ia bisa. Mengajari rumus kubus, struktur bahasa, organ dalam katak, dan sebagainya yang pada kenyataannya ia temukan di perpustakaan. Mereka sebenarnya bisa belajar sendiri dengan membaca buku itu, tetapi doktrin guru dan murid sudah mendarah daging dari dulu. Hanya guru yang sanggup membaca kitab dan mempelajari apa yang ada di sini, untuk kemudian diterangkan kembali pada murid-muridnya.

Semut belang-belang itu masih cukup muda, dan murid-muridnya hanya berbeda beberapa tahun darinya. Sekitar dua sampai empat tahun. Ia dengar, anak kedua dari tetua di sana digadang-gadang akan dijodohkan dengan dirinya. Itu seperti maklumat lembut agar dirinya tetap di tempat tersebut, menjadi seorang guru untuk selamanya.

Di sisi lain, ia pun merasa tertarik pada anak kedua tersebut. Bahkan pernah mendengar putri cantik itu mengaguminya. Meski ia merasa dapat firasat jika kelak menikahi, ia akan didominasi oleh anak tetua itu. Tetapi begitu pun ia tidak apa-apa. Ia tidak keberakatan siapa yang mendominasi nanti, asal bisa bersama makhluk yang ia cintai.

Ia pun pernah bertanya pada beberapa semut merah, juga tetua, apakah ia bisa menikah dengan salah satu dari golongan mereka, asal berlainan jenis? Semuanya menjawab tidak ada masalah.

“Kenapa kau bertanya begitu wahai anak muda?” tanya tetua setelah pertanyaannya dijawab.

“Karena di tempat saya, mereka yang berbeda tidak boleh menikah. Semut putih harus menikah dengan semut putih, begitu pula semut hitam harus menikah dengan semut hitam. Jika sepasang kekasih berlainan warna nekat menikah, mereka akan dikeluarkan dari masyarakat. Dikucilkan dan tidak akan mendapatkan hak-hak mereka sebagai makhluk.”

“Menyedihkan sekali sistem pernikahan di tempat asalmu.”

Namun, pernikahan antara semut belang-belang dengan anak kedua tetua tidak pernah terjadi. Sekitar satu bulan ia berada di sana, ia ada kesempatan untuk pulang ke rumahnya yang cukup jauh. Ia ceritakan apa yang ia alami pada kedua orang tuanya, kakek-neneknya, dan mereka mengurungnya di rumah. Menempatkan dirinya di kurungan besi dengan gembok baja. Ia tidak bisa kembali ke tempat semut-semut merah itu tinggal, tidak bisa melihat putri kedua tetua lagi, tidak bisa menikahinya, hanya karena kulit mereka berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s