Telepon Iseng

​Pada mati listrik kesekian, aku iseng menelepon sembarang nomer. Pada enam digit dari awal, aku memilih kartu yang sama dengan yang kupakai—ada bonus telepon dua jam sesama operator. Untuk enam digit dibelakang, aku pilih secara ajak. Berharap jempol jariku tidak menekan nomor telepon banci saja.

Setelah mencoba empat nomor yang semuanya tidak terdaftar. Pada nomor kelima ada bunyi “tut tut” yang kukenal. Tak beberapa lama ada suara perempuan yang mengucapkan “halo” dengan suara merdu.

“Halo,” jawabku, sedikit bergetar. “Bisa bicara dengan Pak Budi?”

Perempuan tersebut diam sebentar. “Maaf, nomor ini bukan milik Pak Budi.”

“Oh. Jadi, milik siapa, ya?”

Perempuan tersebut diam lagi, sebelum terdengar bunyi telepon di tutup. Aku simpan nomor tersebut kekontak dengan nama “korban pertama”. Siapa tahu nanti bisa aku hubungi lagi. Kayanya ia memiliki wajah cantik, dari suaranya yang merdu.

Aku kembali mencoba menelepon nomor sembarang lagi, tetapi dari sepuluh kali percobaan, hanya tiga yang diangkat. Itupun laki semua. Yang pertama suaranya berat, sepertinya seorang tentara. Yang kedua sedikit kemayu, dan di latar belakang aku dengar lagu Korea sedang berkumandang. Yang ketiga sedikit aneh terdengarnya, sedikit serak dan lebih mirip suara perempuan, tetapi kesannya ia adalah seorang laki-laki, dan di latar belakang aku dengar lagu Keyakizaka.

Aku pun mengakhiri telepon iseng itu, dan melihat hari sudah mulai beranjak siang. Lebih baik aku mandi, tetapi duduk di depan komputer lebih menggiurkan. Aku berada di sana sampai makan siang tiba, memesan sekotak ayam goreng, kemudian kembali ke depan komputer. Sore harinya, aku kedatangan tamu.

Mereka dua orang berbadan tegap dengan jaket kulit yang melekat di tubuhnya.. Satunya memiliki kumis tebal, satunya tidak. Mereka bertanya apakah aku tinggal di tempat itu, aku jawab iya. Salah satu dari mereka kemudian menelepon, dan dari arah kamarku terdengar dering panggilan masuk. Setelah itu, polisi yang berkumis tebal tadi langsung membekukku, sementara yang lain pergi ke kamar. Ia kembali lagi kemudian sambil membawa teleponku dengan layar yang menapakkan “korban pertama” memanggil.

“Anda ditahan sebagai tersangka utama pembunuhan Nur Shinta El-Qisya .”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s