Makan Bakso

​Kami sering makan berdua, sesering agenda makan itu sendiri dalam sehari. Namun, pada bulan terakhir di tahun ini—karena kesibukan masing-masing—kami baru bisa makan bersama setelah lima hari berlalu. Mengalahkan rekor empat hari tanpa makan bersama pada bulan Agustus kemarin.

Ngomongin soal makan, entah kenapa kami sama-sama sepakat pada diri sendiri: makan itu cukup dua kali sehari, pada pukul delapan pagi dan jam tiga sore. Tidak ada hukum kami harus makan tiga kali sehari, atau mengikuti aliran empat sehat lima sempurna. Asal bisa menghilangkan rasa lapar, itu sudah cukup bagi kami.

Adhy tidak suka berbicara saat makan, ataupun ada orang di depannya. Ia selalu menyuruhku duduk di sebelahnya, dan baru bicara setelah makanan itu habis. Sore ini pun sama, aku harus menghabiskan satu porsi bakso dengan kuah putih—tanpa ada tambahan kecap atau saus, serta sambal, hal lain yang membuatku mirip dengan Adhy—sebelum mulai bertanya.

“Jika kamu punya kemampuan untuk mengubah tahun ini jadi lebih baik, apa yang akan kamu ubah?”

“Mungkin kemenangan Sashihara Rino,” jawabnya langsung setelah menandaskan satu gelas air. “Aku lebih suka Matsui Jurina yang menang, atau Yamamoto Sayaka. Itu akan membuat anggota AKB kalah dari saudarinya, selain dari anggota HKT.”

“Bisakah jawabannya tidak memerlukan sebuah subtitle?” Aku selalu kesal kalau jiwa ngidol pemuda ini bangkit, yang secara otomatis sedikit menyinggung perasaanku sebagai perempuan—yang masih belum aku tahu pasti penyebabnya.

“Jika aku bisa mengubah tahun ini menjadi lebih baik, lalu apa yang aku ubah, ya?”

Adhy mulai serius jika ia membetulkan letak kacamatanya, menopang dagu, dan diam beberapa lama seperti orang berpikir, meski kadang jiwa ngidol-nya yang memberikan jawaban. Tetapi sore itu, di dalam warung makan sederhana dekat jalan, dengan lalu lintas cukup padat, hawa dingin setelah hujan, aroma keringat pejalan kaki dan pelanggan, parfum mereka yang memudar, dan bau bakso serta kuah yang tercium ketika penjualnya sedang melayani pelanggan, Adhy mengucapkan kalimat bijaksananya—yang cukup langka terdengar.

“Aku akan kembali ke hari pertama pada tahun ini, membuang rasa malas dan tidak percaya diri yang kumiliki, kemudian menulis sebanyak-banyaknya, mengikuti setiap lomba menulis yang ada, dan hari ini mungkin aku telah memenangkan salah satunya. Namun, jika aku benar-benar bisa kembali ke hari itu, aku rasa diriku akan mengulangi apa yang telah aku lakukan tahun ini, dan berakhir sebagai pemalas yang berandai-andai bisa kembali ke hari yang sudah jauh berlalu, sambil duduk dan menikmati bakso.”

“Kenapa kamu berpikir akan melakukan hal yang sama? Kamu sudah tahukan, jika kamu malas dan tidak percaya diri, kamu akan berakhir seperti ini di akhir tahun.”

“Mengetahui masa depan, itu seperti ramalan. Itu bukan hal yang pasti. Hasil akhirnya selalu berdasarkan usahamu sendiri. Aku tidak butuh hal seperti itu, yang kubutuhkan ada pengalaman. Tahun ini aku belajar, bahwa merawat rasa malas dan tidak percaya diri tidak akan membawaku ke mana-mana. Bahkan aku melewatkan beberapa kesempatan emas yang berada di depan mataku. Dengan pengalaman ini, tahun depan aku akan bisa lebih baik dan bisa lebih rajin dari tahun sebelumnya.”

Pada kesempatan yang langka pula, aku terpesona dengan Adhy, meski kemudian hanya sesaat sebelum ia kembali jadi manusia pecinta cewek-cewek Jepang berseragam pelaut itu.

“Eh, tetapi, jika tahun ini bisa diulang, apa Watanabe Mayu akan mengalahkan Sashihara Rino? Selisihnya kan jauh sekali. Aku juga bisa melihat Takahashi Minami lebih lama di AKB.”

Dan aku memanggil abang tukang bakso untuk memberi kami porsi kedua di sore itu, agar Adhy kembali diam. Sementara diriku memungut kembali pesona-pesona dirinya yang dihancurkan perempuan asing bernama Sashihara Rino tersebut.

Iklan

3 pemikiran pada “Makan Bakso

  1. Huahahahaha. Ini seru, El. Gaya kamu banget kalo lagi chat dan betapa menyebalkan sekali jika ngidolmu kambuh.

    Suka

  2. Je note aussi une ambiguïté. Sauf erreur de ma part, Samsung ajoute la sur-couche touch Wizz qui fonctionne très bien, en revanche c’est bien SFR qui installe sa propre su-hourrcsuc-e avec les applis SFR JEUX LIVE CONCERTS etc… Ce qui est énervant c’est que vous ne savez même pas de quoi vous parlez, ICS fonctionne TRES bien sur le NOTE. C’est SFR le souci !!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s