Judul Bentuk Lain dari Penipuan

Aku menyuruh Adhy untuk membuat artikel yang membahas selebriti tanah air, yang segera ia betulkan menjadi selebritas. Katanya, bentuk baku lebih menunjukkan profesionalitas daripada bentuk tidak bakunya. Aku mengiyakan saja sambil menggaris bawahi bahwa ia tidak boleh membahas tentang JKT48. Hal tersebut membuat keningnya berkerut dan menampakkan wajah tidak senang. Tetapi aku tidak peduli.

Aku pun berikrar akan melakukan hal serupa. Saat ia bertanya kenapa kami harus melakukan hal tersebut, aku jawab saja sebagai latihan menulis. Daripada menghabiskan waktu menonton acara gadis-gadis berseragam pelaut itu, lebih baik menulis sesuatu meski tidak menghasilkan. Siapa tahu bisa memicu dorongan untuk menulis lebih jauh, atau paling tidak menambah jam terbang.

Alasan sebenarnya dari kegiatan ini adalah, aku ingin tahu gadis seperti apa yang dibutuhkan oleh Adhy. Jika aku bertanya langsung, ia akan mengatakan Watanabe Rika sebagaimana jawabannya atas kuis: siapa yang orang yang hendak kamu jadikan pacar? Atau Watanabe Risa. Ia sudah pindah dari Watanabe Mayu beberapa tahun lalu, sejak gadis itu memakai bikini. Bahkan sekarang terlibat pemotretan tanpa sehelai baju.

Meski Adhy adalah pemuda yang level kemesumannya di atas rata-rata, tetapi matanya masih cukup jeli memilah gadis seperti apa yang bisa menjaga keanggunan tubuhnya. Meskipun di balik pintu kamarnya, ia menikmati setiap lekuk tubuh gadis yang biasa dipanggil Mayuyu tersebut.

Masalah timbul ketika aku harus menulis artikel. Aku sudah beberapa tahun tidak mengikuti acara televisi lagi. Baik sinetron atau beritanya. Terkadang aku memang nonton televisi, tetapi ketika ada tayangan film yang kusuka dan pernah aku tonton di DVD sebelumnya—demi menghindari rasa kesal karena sensor berlebihan. Jadi, aku tidak tahu siapa saja yang masih memegang status pesohor di tanah air ini.

Kemudian aku ingat dengan Paman yang tiga hari yang lalu datang untuk makan malam. Kami sempat berbincang di teras samping mengenai beberapa hal, termasuk Adhy. Aku sempat memberitahu kekesalanku akan jiwa ngidol pemuda itu yang sudah melebihi tahap kronis. Paman malah tertawa dan bilang aku mungkin masih belum tahu apa yang sebenarnya aku butuhkan dari seorang teman.

Paman kemudian menjelaskan lebih rinci perihal keinginan dan kebutuhan tersebut. Orang lebih suka memilih apa yang mereka butuhkan daripada yang mereka inginkan. Seperti contoh—Paman dengan diktatornya menjadikan aku kelinci percobaan—aku kehabisan bensin di tengah jalan yang sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat. Aku bisa saja kembali ke kota yang baru saja aku lewati, meski jaraknya 5 kilo meter. Aku juga bisa terus berjalan ke kota di depan dengan jarak yang sama pula. Selain kehabisan bensin, aku juga kehausan.

“Saat ada seseorang datang padamu menawarkan bensin atau air—kamu hanya boleh memilih salah satunya—apa yang kamu pilih?”

Aku memikirkannya sebentar. Jika aku haus, tentu aku lebih memilih air tersebut. Tetapi situasinya berbeda, aku juga butuh bensin. Jika aku memilih air putih, aku masih harus berjalan 5 kilo meter lagi. Aku bisa saja haus kembali di tengah jalan. Jika aku pilih bensin, aku bisa menjalankan kendaraanku dan menempuh jarak tersebut lebih cepat, dan berhenti ketika sudah sampai di kota untuk minum. Jadi, aku pilih bensin.

“Sama hal dengan teman, kamu lebih suka memilih teman yang kamu butuhkan daripada teman yang kauinginkan.”

“Benarkah aku membutuhkan teman seperti Adhy?” tanyaku langsung.

Paman sedikit mengerutkan keningnya sebelum kembali bicara. “Kamu suka baca buku, kan. Buku apa yang pernah kamu baca dan berpendapat berbeda dengan orang kebanyakan?”

Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan.”

“Apa pendapatmu tentang buku tersebut?”

“Menurutku, buku itu hanya berisi hiburan cabul yang ditampilkan dengan sangat elegan.”

“Apa kamu ingin punya teman yang berpendapat sama dengan dirimu?”

Aku mengagguk cepat, karena aku pernah berpikir seperti itu. Pasti menyenangkan memiliki teman yang sependapat mengenai satu hal.

“Bagaimana pendapat Adhy soal buku itu?”

“Ia bilang, jalinan kalimat buku itu begitu membius, ia tidak bisa berhenti membaca sampai habis, meski ia kecewa pada beberapa hal. Seperti begitu mudahnya tokoh perempuannya untuk melakukan fornikasi.”

Paman tersenyum saat aku megatakan hal tersebut. “Sudah kubilang, kan, Adhy adalah teman yang kamu butuhkan. Kamu mungin menginginkan teman yang sependapat dengan dirimu, tetapi sebenarnya kamu membutuhkan teman yang tidak serta-merta menelan buku yang dipuja-puja tersebut dan menasbihkannya sebagai buku paling dahsyat setelah satu abad berlalu. Kamu hanya butuh teman yang berani berbeda dari orang lain, berani mengatkaan isi pikirannya secara terbuka, meski bertentangan dengan pendapat banyak orang. Dan Adhy telah melakukannya.”

Paman juga memberitahu jika hal tersebut—keinginan atau kebutuhan—juga bisa diaplikasikan pada hubungan cinta. Orang-orang akan lebih memilih kekasih yang mereka butuhkan daripada yang diinginkan. Untuk mengetahui hal itu, aku butuh tahu lebih dulu kekasih apa yang diinginkan Adhy. Hal yang memberiku ide untuk menyuruhnya menulis sebuah artikal tentang selebritas. Semua orang pasti pernah punya keinginan untuk memiliki kekasih dari golongan tersebut. Dari sana aku akan menggali kekasih seperti apa yang dibutuhkan oleh Adhy.

Aku juga bisa memanipulasi sedikit artikel yang harus aku tulis. Aku akan mengambil selebritas—seorang pemuda—yang aku ingin Adhy mencontohnya. Pemuda yang gemar menulis juga, tetapi tidak mesum dan tidak mengikuti gadis-gadis berseragam pelaut

Saat hari pertemuan, aku merasa berdebar. Aku ingin tahu siapa yang Adhy pilih sebagai tokoh utama di artikelnya. Dadaku serasa meledak ketika jam menunjukkan sudah lewat lima menit dari perjanjian awal, tetapi Adhy belum datang juga. Pemuda berkacamata itu datang setelah sembilan menit berlalu, dan tanpa minta maaf karena terlambat, ia langsung memanggil pelayan. Memesan makanan.

Aku sodorkan artikelku yang sudah kujilit sempurna. Menerimanya sambil tersenyum kecil, kemudian membuka tasnya. Mengambil lembaran kertas dari sana, lalu menyerahkan padaku.

Saat aku melihat judulnya, rasanya aku ingin mati saja.

“Presiden Koleris vs Presiden Plegmatis.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s