Pertanyaan di depan Soto Babat

​”Siapa tokoh fiksi favoritmu?”

Pertanyaan itu muncul setelah dua piring soto babat di depan kami tandas. Pertanyaan yang kiranya kurang cocok di ajukan pada saat ini, dengan kegerahan yang sudah mencapai batas. Entah apa yang dipikirkan Adhy sehingga ia mengusulkan untuk pergi ke pusat pasar, duduk di warung makan yang sedikit sesak, dengan aroma peluh dan makanan yang berbaur jadi zat semi-adiktif. Hidungmu senang saat membaui aroma gurih makanan, pada saat yang sama benci pada bau peluh yang ikut hinggap di syarafnya.

“Siapa tokoh fiksi favoritmu?” Sekali lagi pemuda berkacamata dengan ikat kepala merah itu mengajukan pertanyaannya.

Aku berusaha berpikir secepat mungkin, tetapi banyak sekali tokoh favorit dari ranah fiksi yang kusuka. Tidak mudah menentukannya begitu saja.

Dulu aku suka dengan Sherlock Holmes yang diciptakan Sir Arthur Conan Doyle, tetapi setelah bacaanku berkembang, ada banyak tokoh fiksi yang menyita perhatian. Seperti saingannya detektif hebat tersebut, Hercule Poirot, yang ditenun oleh Agatha Christie. Ada juga L dari Death Note, Shikamaru dari Naruto, dan banyak lainnya yang tidak terbatas pada buku.

Kemudian aku teringat dengan kejadian kemarin, di mana usahaku gagal untuk mengungkap kekasih seperti apa yang dibutuhkan oleh Adhy. Mungkin saja pertanyaannya tadi secara tidak langsung ingin mengungkapkan sesuatu dariku—dari jawaban yang kuberikan. Jadi, aku membalikkan pertanyaan tersebut pada empunya, meski ada rasa khawatir jiwa jahanam pemuda ini akan meledak seketika.

“Aku suka dengan Diva di Supernova, tetapi filmnya membuatku kecewa. Aku masih bertanya-tanya kenapa Teteh Dewi Lestari melepas novelnya untuk dicabuli oleh sutradara iseng?”

Kekhawatiran itu tidak terbukti. Jiwa jahanamnya tidak akan muncul. Sejak bertemu satu jam yang lalu sampai sekarang, ia masih belum menyebut-nyebut soal kelompok beranggotakan lebih dari seratus gadis itu. Jadi aku pikir ini kesempatan bagus untuk memulai diskusi yang serius.

“Jadi, Diva telah digantikan oleh tokoh favorit lain?” tanyaku segera.

“Bisa dibilang begitu.”

“Siapa gerangan?” tanyaku, berharap melangkah ke tahap diskusi selanjutnya.

Adhy segera memasang pose berpikir: menopang dagu dengan pandangan membentuk sudut empat puluh enam derajat ke depan. “Kemarin aku suka Dewi Ayu. Dari awal sampai akhir novel, karakternya benar-benar terasa nyata, pola pikirnya berbeda dengan kebanyakan karakter, dan punya humor gelap. Tetapi kalau harus memilih siapa karakter paling aku favoritkan ….”

“….”

“Aku masih tidak bisa lepas dari karakter Center (Matsui Jurina) dan Nezumi (Watanabe Mayu) di Majisuka Gakuen musim kedua.”

“….”

Iklan

3 pemikiran pada “Pertanyaan di depan Soto Babat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s