Titik Jenuh

Kegiatan yang terus dilakukan berulang-ulang, meski itu menyenangkan, akan mengalami titik jenuh pada tempo tertentu. Termasuk pada kegiatan tulis-menulis ataupun membaca. Ketika kejenuhan itu sudah terasa, lebih baik menghentikan kegiatan itu sejenak, dan memulai kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan sebelumnya. Namun, selain pemalas saya juga pembangkang. Meski saya sudah jenuh membaca ataupun menulis, saya tetap melakukan keduanya sebagaimana biasa.

Pertama, mengenai kegiatan membaca. Ketika saya mengalami titik jenuh, di mana memegang buku saja terasa sangat malas, apalagi memabacanya. Saya akan membaca lagi buku-buku bagus yang pernah saya baca. Baik dengan jangka waktu cukup lama, seperti lima tahun yang lalu, atau jangka waktu pendek, seperti sebulan yang lalu. Saya akan membaca ulang buku itu, dengan rasa dan sensasi berbeda, dan tentu saja itu bukanlah kegiatan yang membuang waktu, bahkan bisa jadi menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Saya tidak dapat menilai sebuah buku itu jelek atau bagus—bagi otak saya yang malas ini—sebelum membacanya sampai tuntas. Misalkan saya adalah karakter sebuah permainan dengan sistem exp agar bisa naik level. Untuk naik level berikutnya, saya butuh 10 exp. Saya kemudian membaca buku baru dengan waktu lima jam tanpa henti, tetapi buku itu jelek, saya hanya mendapatkan 5 exp. Tetapi jika membaca buku bagus yang pernah saya baca dan mendapatkan 10 exp darinya, bukankah itu sebuah keuntungan. Lebih baik membaca buku lama yang bagus, yang telah dibaca daripada harus membaca buku baru yang belum tentu baik kualitasnya?

Kedua, mengenai kegiatan menulis. Ada banyak cara sebenarnya yang bisa saya lakukan agar rasa jenuh itu hilang, seperti membaca buku, bermain permainan, atau menonton film, tetapi saya menemukan cara lain yang kiranya lebih efisien dan tidak meninggalkan produktivitas, yaitu: menulis ulang.

Saya menulis ulang cerpen yang sekiranya jelek di mata saya, ataupun yang bagus. Ide ini baru terealisasi sedikit saja. Saya mulai menulis ulang beberapa cerpen dengan muatan kata kisaran 500 kata saja. Saya masih menjajal cara ini, dan dari beberapa cerpen tersebut rasanya mulai terlihat hasilnya. Cerpen lama yang terlihat jelek di mata saya sekarang, bisa ditulis ulang dengan lebih baik dari sebelumnya. Ini seperti mendapatkan 10 exp tadi, dengan melakukan sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya: menulis ulang apa yang sudah ditulis.

Iklan