Pertanyaan di depan Soto Babat

​”Siapa tokoh fiksi favoritmu?”

Pertanyaan itu muncul setelah dua piring soto babat di depan kami tandas. Pertanyaan yang kiranya kurang cocok di ajukan pada saat ini, dengan kegerahan yang sudah mencapai batas. Entah apa yang dipikirkan Adhy sehingga ia mengusulkan untuk pergi ke pusat pasar, duduk di warung makan yang sedikit sesak, dengan aroma peluh dan makanan yang berbaur jadi zat semi-adiktif. Hidungmu senang saat membaui aroma gurih makanan, pada saat yang sama benci pada bau peluh yang ikut hinggap di syarafnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Judul Bentuk Lain dari Penipuan

Aku menyuruh Adhy untuk membuat artikel yang membahas selebriti tanah air, yang segera ia betulkan menjadi selebritas. Katanya, bentuk baku lebih menunjukkan profesionalitas daripada bentuk tidak bakunya. Aku mengiyakan saja sambil menggaris bawahi bahwa ia tidak boleh membahas tentang JKT48. Hal tersebut membuat keningnya berkerut dan menampakkan wajah tidak senang. Tetapi aku tidak peduli.

Baca lebih lanjut

Makan Bakso

​Kami sering makan berdua, sesering agenda makan itu sendiri dalam sehari. Namun, pada bulan terakhir di tahun ini—karena kesibukan masing-masing—kami baru bisa makan bersama setelah lima hari berlalu. Mengalahkan rekor empat hari tanpa makan bersama pada bulan Agustus kemarin.

Baca lebih lanjut